Bersama TNI dan Warga Dirikan Jembatan Sementara Pascabanjir di Situbondo
Situbondo – Fbinews
Personel Polres Situbondo, Jawa Timur, bersama anggota Kodim 0823, pemerintah desa, serta masyarakat setempat bergotong royong membangun jembatan darurat berbahan kayu dan bambu. Langkah ini dilakukan setelah jembatan penghubung antardesa terputus akibat banjir bandang yang terjadi pada Rabu (21/1) lalu.
Jembatan limpas yang menghubungkan Desa Patemon dan Desa Wringinanom, Kecamatan Jatibanteng, rusak diterjang banjir bandang menyusul hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut pada pekan lalu.
"Kerja bakti TNI/Polri bersama pemerintahan desa dan masyarakat dilaksanakan sejak Senin (26/) kemarin, dan sebagai respons cepat atas terputusnya akses utama warga," kata Kapolres Situbondo AKBP Bayu Anuwar Sidiqie di Situbondo, Jawa Timur, Selasa.
Ia menjelaskan, pembangunan jembatan sementara ini menjadi prioritas utama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat agar mobilitas warga yang sempat terhambat pascabanjir dapat kembali berjalan normal.
Menurut Bayu, pengerjaan jembatan darurat yang menjadi akses vital bagi warga Desa Patemon dan Desa Wringinanom dilakukan dengan peralatan sederhana, memanfaatkan bambu dan kayu, serta dikerjakan secara gotong royong agar segera dapat digunakan.
"Kami hadir di tengah masyarakat untuk membantu pemulihan fasilitas umum, dan tujuan utama kerja bakti ini adalah bagaimana akses masyarakat bisa pulih kembali. Dengan adanya jembatan bambu ini, aktivitas sehari-hari maupun jalur perekonomian warga," ujar dia.
Sementara itu, Kepala Desa Wringinanom Sahrudin menyampaikan apresiasi atas respons cepat Polres Situbondo dan Kodim 0823 bersama masyarakat. Menurutnya, kolaborasi dalam pembangunan jembatan darurat tersebut sangat membantu menenangkan warga yang sempat khawatir terisolasi akibat terputusnya akses.
"Alhamdulillah berkat kekompakan semua pihak, akses warga kembali terbuka, ini penting bagi kelancaran ekonomi desa kami pasca-bencana banjir," katanya.
Berdasarkan data BPBD Situbondo, banjir bandang yang terjadi pada Rabu (21/1) malam berdampak pada 7.435 rumah warga yang tersebar di enam kecamatan.
Wilayah terdampak paling parah akibat luapan Sungai Lubawang terjadi di Kecamatan Banyuglugur dengan 1.271 rumah, terdiri atas Desa Kalianget 1.065 rumah, Desa Banyuglugur 65 rumah, Desa Lubawang 140 rumah, dan Desa Tepos satu rumah.
Selanjutnya, Kecamatan Besuki mencatat dampak terbesar dengan 5.414 rumah terdampak, meliputi Desa Pesisir 2.822 rumah, Desa Kalimas 238 rumah, Desa Demung 44 rumah, Desa Besuki 2.306 rumah, dan Desa Bloro empat rumah.
Hujan deras pada Rabu (21/1) juga menyebabkan sejumlah sungai meluap dan menggenangi 113 rumah warga di Desa Mlandingan Wetan, Kecamatan Bungatan.
Di Kecamatan Mlandingan tercatat 402 rumah terdampak, tersebar di Desa Selomukti 305 rumah dan Desa Mlandingan Kulon 97 rumah. Selain itu, di Desa/Kecamatan Kendit terdapat 227 rumah terdampak, serta delapan rumah di Desa Curah Suri, Kecamatan Jatibanteng.
**

Posting Komentar