Bripka Bayu Jadi Pengajar Relawan di Madrasah Pelosok Cianjur yang Kekurangan Guru
Jakarta – Fbinews
Bagi masyarakat Kampung Gunung Jantung, Desa Leuwikoja, Cianjur, Jawa Barat, Bripka Bayu Angga Kusumanegara tak hanya dikenal sebagai anggota polisi. Ia juga menjadi relawan pengajar Bahasa Inggris di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Jihad.
"Sekolah kami memiliki 33 siswa dari 2 RW, ini fasilitasnya juga lantainya masih belum stabil, bangunannya juga dari tahun '72-an. (Kondisi bangunan) 50 persen layak digunakan, kadang-kadang kalau musim hujan saya berhentikan belajar takut atapnya roboh," tutur Kepala MI Al Jihad, Heni Salamina, Kamis (5/2/2026).
Heni bahkan mengajukan nama Bripka Bayu sebagai kandidat Hoegeng Awards 2026 karena merasa kehadirannya sangat berarti bagi sekolah dengan segala keterbatasan tersebut.
"Dulu kan Pak Bayu sering ada kunjungan ke kampung-kampung, saya sering ketemu sama dia. Terus dia sering berbahasa Inggris, saya usulkan gimana kalau misalkan mau nggak membantu di sekolah kami, karena kami sangat membutuhkan pelajaran berbahasa Inggris," cerita Heni soal awal Bripka Bayu bergabung di sekolahnya.
Sebagai Bhabinkamtibmas Polsek Mande, Bayu sudah sekitar tiga tahun mengajar di sana tanpa menerima bayaran. Ia harus melewati jalur yang berat setiap datang dan pulang dari sekolah.
"Sekolah kami hanya memiliki 3 guru, Dengan adanya Pak Bayu kami sangat terbantu dalam bidang bahasa Inggris, anak-anak juga alhamdulillah ada yang keluaran dari MI Al Jihad mereka jadi nomor 1 di sekolah SMP-nya dengan berkat bantuan Pak Bayu itu. Dari pihak sekolah yang baru itu acung jempol," kata Heni.
Semangat belajar murid tetap tinggi walau fasilitas terbatas.
"Sekolah kami belum terjangkau fasilitas mobil, baru masuk kendaraan roda dua.Saya juga pernah sama Pak Bayu, kasihan dia terjatuh, bajunya sampai compang-camping, sepatunya robek. Saya juga kasihan, tapi gimana ya karena dia terjatuh dari motor. Bukan satu kali dua kali, tapi agak sering sih, karena medan perjalanan juga, kalau musim hujan kan licin," jelasnya.
Bayu biasanya hadir pada Selasa atau Jumat, menyesuaikan tugas dinasnya.
"Antusias dari anak-anak sangat ini banget, misalnya Pak Bayu belum datang, 'Ibu kapan ya Pak Bayu mau ke sini lagi?'. Tapi kalau ada kesibukan, kan tugas polisi tak hanya mengajar ya, dia nggak bisa ke sini di izin dan ngomong, 'Ibu, izin, mohon maaf sekali saya nggak bisa masuk hari ini'," ucap dia.
Perlahan fasilitas sekolah mulai membaik, termasuk masuknya aliran listrik.
"Di sekolah kami baru dua tahunan menikmati listrik, alhamdulillah ada bantuan dari Kapolres, itu juga dari atasan Pak Bayu juga sih," kata Heni.
Namun sekolah masih kekurangan sejumlah fasilitas dasar. Meski begitu, Bayu tetap mengajar secara sukarela.
"Kalau Pak Bayu sukarela, dengan ikhlas dia. Pak Bayu emang bagus sih, apresiasi kalau aku mah, sebagai polisi dia mau memberikan ilmunya kepada anak kami," Heni menekankan.
Total 4 Jam Perjalanan Pergi-Pulang Ngajar, Medan Bukit
Bayu menceritakan ia mulai terdorong membantu sekolah tersebut pada 2022 ketika melihat langsung kondisinya.
"Kebetulan desa tersebut merupakan desa binaan, saya tergerak secara nurani dan serta sosial karena melihat kondisi sekolah karena sangat memprihatinkan, juga kekurangan tenaga pengajar serta fasilitas sarana dan prasarana," kata Bayu.
Ia rela menempuh perjalanan panjang dengan medan berat demi bisa mengajar.
"Saya tergerak mengabdikan diri mengajar di situ, lokasinya lumayan cukup jauh medan terjal, jarak dari Polsek kurang lebih 1 jam 45 menit, itu saya mengajar Bahasa Inggris Dasar untuk kelas 5 dan 6 SD," ucap dia.
Kemampuannya mendapat dukungan dari pimpinan.
"Kalau rutinnya seminggu 2 kali, hanya tergantung kita lihat situasi, kalau Bhabin itu pengamanan juga, jadi tergantung situasi dan kondisi. Kalau nggak ada tugas lain," ucap dia.
Ia juga melaporkan kondisi sekolah yang minim fasilitas hingga akhirnya mendapat bantuan listrik.
"Sekarang alhamdulillah kemarin tahun 2023 ada dapat bantuan listrik dari Pak Kapolres, awalnya belum ada listrik, sekarang belum ada punya MCK, beberapa bangku mungkin agak kurang layak karena aksesnya jauh," jelasnya.
"Kebetulan beliau menanyakan tentang kondisi sekolah, saya sampaikan real-nya saja, keadaannya memang seperti itu. Jadi ini sekolahnya di tengah gunung bisa dibilang, jadi jalan tu masuk ke kampung, naik perbukitan, agak pelosok," imbuhnya.
Akses menuju kampung hanya bisa dilalui sepeda motor.
"Itu cuma sekolah satu-satunya di kedusunan di atas itu. Kalau mobil nggak bisa masuk, cuma motor. Kalau musim hujan untuk roda dua sulit akses ditembus, karena tanahnya tanah merah, sama jalan bebatuan sama bukit yang tanjakan itu. Kalau musim kemarau aman, cuma sekarang lagi musim hujan, jadi agak rawan," ucap dia.
Bayu menilai pendidikan adalah kunci masa depan anak-anak desa.
"Saya lebih concern ke bidang pendidikan, selain mengajar MI Al Jihad, sering juga kunjungan ke sekolah lain di luar binaan saya. Kita ada program Police Goes to School, seperti kenakalan remaja, stop bullying, banyak program yang disampaikan di luar sekolah yang tempat saya mengajar," jelasnya.
Menurutnya, kemampuan Bahasa Inggris penting agar anak desa tak tertinggal.
"Alhamdulillah, tadinya untuk anak-anak, mungkin khususnya, mohon maaf, kalau di kampung agak asing Bahasa Inggris itu seperti apa, tapi ini jadi motivasi buat saya untuk memajukan kualitas sumber daya manusia di desa binaan saya agar tidak tertinggal dengan sekolah lain di perkotaan," jelasnya.
Bayu bersama pihak sekolah juga berusaha mencari bantuan dari para dermawan.
"Kita sama kelapa sekolah sedikit-sedikit, sekarang sudah dicat, ada dermawan kita swadaya, karena kalau pengajuan resmi agak sulit. Jadi kita swadaya sebisa mungkin, sama kepala sekolah, Pak RT juga dibantu sama warga," pungkasnya.
**

Posting Komentar