News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Wakapolri Tinjau Langsung Seleksi Taruna Akpol, Teknologi Medis Modern Diterapkan untuk Tingkatkan Akurasi Rikkes

Wakapolri Tinjau Langsung Seleksi Taruna Akpol, Teknologi Medis Modern Diterapkan untuk Tingkatkan Akurasi Rikkes



Semarang – Fbinews


Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, S.H., M.Hum., M.Si., M.M., melakukan peninjauan langsung pelaksanaan Pemeriksaan Kesehatan (Rikkes) Spesialistik seleksi tingkat pusat (Panitia Pusat/Panpus) Penerimaan Taruna/Taruni Akademi Kepolisian (Akpol) Tahun Anggaran 2026 di Gedung Serbaguna Akademi Kepolisian (Akpol), Lemdiklat Polri, Semarang.


Kegiatan tersebut turut dihadiri Kalemdiklat Polri, Komjen Pol. Drs. R. Z. Panca Putra S., M.Si., Gubernur Akpol Irjen Pol. Daniel Tahi Monang Silitonga, S.H., M.A., Karokespol Pusdokkes Polri Brigjen Pol. Dr. dr. I Gusti Gede Maha Andikajaya, S.H., M.M., M.H.Kes., Sp.Rad., M.Kes., serta Karodalpers SSDM Polri Brigjen Pol. Erthel Stephan, S.H., S.I.K., M.Si.


Peninjauan dilakukan untuk memastikan setiap tahapan pemeriksaan kesehatan berlangsung secara profesional, transparan, dan akuntabel dengan dukungan teknologi kedokteran terkini guna menghasilkan proses rekrutmen yang lebih akurat, objektif, serta berbasis bukti ilmiah (evidence-based).


Sebanyak 409 calon taruna dan taruni mengikuti Pemeriksaan Kesehatan (Rikkes) Spesialistik dari total 410 peserta yang berhak mengikuti seleksi tingkat pusat. Satu peserta diketahui mengundurkan diri sebelum pelaksanaan pemeriksaan. Seluruh peserta menjalani pemeriksaan di 12 stasiun spesialistik yang meliputi pemeriksaan mata (visus dan buta warna), Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT), gigi dan mulut, saraf, komposisi tubuh, bedah atau fisik, penyakit dalam, jantung, obstetri dan ginekologi (Obgyn), radiologi dan paru, kulit, hingga pemeriksaan kepadatan tulang (Bone Mineral Density/BMD).


Dalam kesempatan tersebut, Wakapolri memberikan perhatian khusus terhadap pemanfaatan teknologi medis modern yang digunakan Pusdokkes Polri untuk meningkatkan ketepatan hasil pemeriksaan kesehatan. Salah satunya adalah penggunaan Heart Rate Variability (HRV) untuk menganalisis irama dan daya tahan jantung peserta secara lebih menyeluruh. Wakapolri juga menginstruksikan agar pemeriksaan jantung dilakukan tidak hanya saat peserta dalam kondisi istirahat, tetapi juga setelah melakukan aktivitas fisik agar kemampuan jantung menghadapi beban selama pendidikan dapat dinilai lebih akurat.


Selain itu, Wakapolri turut meninjau penggunaan alat Bone Mineral Density (BMD) berbasis digital untuk mengukur kepadatan massa tulang calon taruna dan taruni. Pemeriksaan tersebut menjadi langkah preventif dalam mendeteksi potensi cedera maupun risiko patah tulang sejak dini. Arahan tersebut sekaligus menjadi bagian dari evaluasi terhadap sejumlah insiden cedera yang pernah terjadi selama masa pendidikan, sehingga hasil pemeriksaan kepadatan tulang dapat menjadi salah satu indikator kesiapan fisik peserta.


Pemeriksaan kapasitas paru melalui pengukuran VO₂ Max juga menjadi perhatian Wakapolri untuk memastikan fungsi pernapasan dan daya tahan fisik para calon taruna dan taruni. Seluruh instrumen kesehatan berbasis digital tersebut diharapkan menjadi dasar pengambilan keputusan yang objektif, akurat, dan berbasis bukti ilmiah sehingga peserta yang dinyatakan lulus benar-benar memenuhi standar kesehatan sebagai calon perwira Polri.


Karokespol Pusdokkes Polri, Brigjen Pol. Dr. dr. I Gusti Gede Maha Andikajaya, S.H., M.M., M.H.Kes., Sp.Rad., M.Kes., menjelaskan bahwa pemeriksaan kesehatan spesialistik dalam seleksi Taruna Akpol kini memanfaatkan teknologi kedokteran modern guna meningkatkan akurasi diagnosis sekaligus kualitas pengambilan keputusan.


“Pemeriksaan kesehatan tidak lagi hanya bertumpu pada pemeriksaan klinis konvensional. Melalui pemeriksaan Heart Rate Variability (HRV), tim dokter dapat mengevaluasi respons fisiologis jantung dan kemampuan adaptasi tubuh terhadap beban fisik. Pemeriksaan Bone Mineral Density (BMD) memberikan gambaran objektif mengenai kepadatan tulang untuk mengidentifikasi risiko cedera sejak dini, sedangkan VO₂ Max mengukur kapasitas aerobik dan daya tahan kardiopulmoner peserta. Seluruh parameter tersebut dipadukan dengan hasil pemeriksaan spesialistik lainnya sehingga menghasilkan penilaian kesehatan yang lebih komprehensif, objektif, dan berbasis bukti ilmiah,” jelas Brigjen Pol. Maha Andikajaya.


Selain penerapan teknologi medis, Wakapolri juga menekankan pentingnya pemeriksaan menyeluruh terhadap riwayat penyakit bawaan maupun gangguan saraf, seperti epilepsi, agar dapat terdeteksi sejak awal seleksi. Ia juga menginstruksikan agar seluruh kondisi kesehatan yang menjadi syarat penerimaan diperiksa secara cermat. Khusus bagi calon taruni, Wakapolri mengingatkan perlunya pemeriksaan ulang obstetri dan ginekologi (Obgyn) pada hari ke-16 hingga ke-20 setelah pengumuman kelulusan sebagai langkah preventif guna memastikan seluruh peserta yang akan mengikuti pendidikan memenuhi standar kesehatan yang telah ditetapkan.


Lebih lanjut, Wakapolri mendorong Pusdokkes Polri untuk terus memperbarui spesifikasi peralatan medis sekaligus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta referensi dari jurnal dan literatur kedokteran terbaru. Menurutnya, modernisasi perangkat kesehatan merupakan investasi penting dalam mewujudkan sistem rekrutmen Polri yang semakin presisi, transparan, dan mampu menghasilkan sumber daya manusia unggul sejak tahap seleksi.


Melalui pengawasan langsung terhadap pelaksanaan Rikkes Spesialistik tersebut, Wakapolri menegaskan bahwa proses rekrutmen Taruna dan Taruni Akpol harus mengedepankan objektivitas, transparansi, akuntabilitas, serta pendekatan ilmiah. Pemanfaatan teknologi kedokteran modern dinilai tidak hanya meningkatkan akurasi pemeriksaan kesehatan, tetapi juga menjadi bagian dari transformasi sistem rekrutmen Polri yang semakin modern dan presisi.


Penguatan sistem seleksi berbasis evidence-based medicine diharapkan mampu menghasilkan calon perwira Polri yang memiliki kondisi kesehatan prima, ketahanan fisik yang terukur, serta kesiapan menghadapi tantangan pendidikan dan pelaksanaan tugas kepolisian di masa mendatang. Dengan demikian, setiap keputusan kelulusan benar-benar didasarkan pada data medis yang valid, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.


Komitmen tersebut merupakan bagian dari upaya Polri mewujudkan rekrutmen yang Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis (BETAH) sekaligus memperkuat implementasi scientific policing sejak proses seleksi. Melalui rekrutmen yang berkualitas, Polri optimistis dapat melahirkan perwira-perwira muda yang sehat, tangguh, berintegritas, adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta siap memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

**

Tags

Newsletter Signup

FBINEWS

Posting Komentar