Ditpolairud Polda NTT Intensif Pantau Penanganan Tumpahan Minyak di Perairan Pulau Semau
Kupang – Fbinews
Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Nusa Tenggara Timur terus melakukan pengawasan terhadap penanganan tumpahan minyak di perairan Pulau Semau, Kabupaten Kupang. Bersama sejumlah instansi terkait, kepolisian memperkuat koordinasi lintas sektor dan melaksanakan pemantauan secara intensif guna mempercepat proses pemulihan lingkungan laut yang terdampak.
Direktur Polairud Polda NTT, Kombes Pol. Irwan Deffi Nasution, menjelaskan bahwa pihaknya segera mengambil langkah setelah menerima laporan mengenai dugaan pencemaran laut yang diduga berasal dari kebocoran minyak saat proses pengangkatan bangkai KM Kuala Emas.
"Personel kami langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pengumpulan bahan keterangan, memastikan sumber kejadian, mengidentifikasi tingkat dampak, serta mendukung langkah-langkah penanganan di lapangan," ujar Irwan.
Berdasarkan hasil pendataan, tumpahan minyak berdampak pada sejumlah kawasan pesisir di Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang. Wilayah yang terdampak meliputi Desa Hansisi, Uiasa, Huilelot, Onansila, Uitiuh Ana, Akle, Naikean, Letbaun, hingga Batuinan.
Hasil koordinasi di lapangan mengungkapkan bahwa insiden terjadi saat proses evakuasi bangkai KM Kuala Emas yang dikerjakan oleh konsorsium pekerjaan bawah air dengan menggunakan Crane Barge Hong Bang 6 sebagai alat utama.
Sebelum kebocoran terjadi, proses pemotongan beberapa bagian kapal telah dilaksanakan sesuai prosedur teknis dan tidak ditemukan adanya indikasi keluarnya bahan bakar maupun kebocoran dari badan kapal.
Namun, pada Selasa (28/7/2026) sekitar pukul 12.05 WITA, ketika pekerjaan pemotongan memasuki bagian lambung kiri kapal di antara Palka Dua dan Palka Tiga, terjadi kebocoran yang mengeluarkan minyak yang diduga merupakan Marine Fuel Oil (MFO).
Berdasarkan penjelasan pihak kontraktor, lokasi kebocoran berada di luar perkiraan hasil kajian teknis sebelumnya. Bagian tersebut diperkirakan merupakan tangki balas sehingga tidak diduga menjadi tempat penyimpanan ataupun jalur distribusi bahan bakar kapal.
Setelah kejadian diketahui, seluruh pihak yang terlibat segera melakukan berbagai langkah penanganan untuk membatasi penyebaran minyak sekaligus mempercepat proses pembersihan di kawasan pesisir dan perairan sekitar.
Kombes Pol. Irwan Deffi Nasution menegaskan bahwa pengendalian pencemaran menjadi fokus utama agar dampaknya terhadap masyarakat pesisir maupun ekosistem laut dapat diminimalkan.
Sebagai bagian dari upaya penanganan, PT Nusantara Salvage Indonesia menambah armada operasional di lokasi dari dua menjadi empat unit perahu untuk mempercepat proses pembersihan.
Selain itu, petugas memasang oil boom guna membatasi penyebaran minyak, menggunakan oil absorbent pads, melakukan penyemprotan oil dispersant, serta menyedot minyak yang masih mengapung di permukaan laut.
"Hingga saat ini sekitar lima hingga enam ton minyak telah berhasil diamankan dari kawasan terdampak. Proses pembersihan akan terus dilakukan sambil memantau kemungkinan adanya penyebaran baru akibat perubahan arus laut," jelas Irwan.
Kegiatan pembersihan turut melibatkan masyarakat melalui kerja bakti di sejumlah titik pesisir, antara lain Hansisi, Pelabuhan Ferry Semau, Pelabuhan Rakyat Semau, Hansisi Oesemuk, Lalendo, hingga Pulau Kambing.
Dalam proses penanganan tersebut, Ditpolairud Polda NTT terus menjalin koordinasi dengan Pemerintah Kecamatan Semau, Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN), KSOP, serta berbagai instansi teknis lainnya agar seluruh tahapan penanganan dapat berlangsung secara terpadu dan efektif.
Pemantauan kondisi perairan juga dilakukan secara berkala melalui patroli laut maupun darat di wilayah yang berpotensi terdampak. Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak terjadi penyebaran baru yang dapat mengancam kawasan pesisir maupun habitat biota laut.
Menurut Irwan, hasil pemantauan di lapangan akan menjadi dasar dalam menentukan langkah lanjutan sehingga proses pemulihan lingkungan dapat berjalan secara optimal.
Selain itu, Ditpolairud Polda NTT mengimbau masyarakat pesisir agar tetap tenang dan segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan sisa tumpahan minyak di pantai maupun perairan sekitar. Keterlibatan masyarakat dinilai penting untuk mempercepat penanganan sehingga pencemaran tidak meluas.
Sementara itu, pihak kontraktor masih melakukan investigasi teknis untuk memastikan penyebab pasti kebocoran Marine Fuel Oil saat proses pengangkatan bangkai kapal berlangsung.
Polda NTT menegaskan akan terus mengawal seluruh proses penanganan hingga kondisi perairan Pulau Semau kembali pulih, aman bagi aktivitas masyarakat, serta menjadi habitat yang sehat bagi ekosistem laut.
**

Posting Komentar