MAHASISWA TRISAKTI SUARAKAN KRITIK KEBIJAKAN PEMERINTAH, DESAK REFORMASI BIROKRASI DAN SUPREMASI SIPIL
JAKARTA — FBINEWS
Mahasiswa Universitas Trisakti menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Jakarta Pusat dengan menyampaikan sejumlah tuntutan terkait kondisi ekonomi, krisis lingkungan, reformasi birokrasi, hingga penegakan supremasi sipil dan demokrasi.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyoroti kebijakan pemerintah yang dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan mendasar masyarakat. Mereka mendesak adanya pembenahan tata kelola pemerintahan serta kebijakan publik yang lebih berpihak pada kebutuhan rakyat.
Aksi yang melibatkan ratusan kendaraan tersebut dimulai dari kawasan Kampus Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat, sebelum bergerak menuju kawasan pusat pemerintahan.
SOROT KRISIS EKONOMI DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN
Dalam tuntutannya, mahasiswa menyoroti persoalan ekonomi yang dinilai menyulitkan masyarakat untuk meningkatkan daya saing di tengah persaingan global.
Mereka mengkritik respons pemerintah terhadap sinyal risiko krisis keuangan dan mendesak langkah pembenahan ekonomi yang lebih terarah agar masyarakat memiliki kesempatan yang lebih merata untuk berkembang.
Di bidang lingkungan, mahasiswa menyoroti penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menjadi persoalan serius di sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.
Mereka meminta pemerintah memperkuat langkah pencegahan, penanganan bencana ekologis, serta penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan.
Selain itu, mahasiswa mendorong perbaikan kebijakan di sektor pendidikan, politik, dan kesehatan agar lebih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat secara merata.
Mereka juga menyuarakan penolakan terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dinilai bermasalah dan meminta pemerintah mengevaluasi proyek-proyek yang dianggap tidak sejalan dengan kepentingan masyarakat.
DESAK REFORMASI BIROKRASI DAN HENTIKAN RANGKAP JABATAN
Tuntutan berikutnya berkaitan dengan reformasi birokrasi dan tata kelola pemerintahan. Mahasiswa mendesak evaluasi terhadap pejabat di lingkungan kabinet maupun instansi negara yang dinilai tidak menjalankan tanggung jawab secara optimal.
Mereka meminta agar pengisian jabatan publik mengedepankan kompetensi, integritas, dan akuntabilitas.
Mahasiswa juga menuntut penghentian praktik rangkap jabatan pada pejabat publik yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan. Menurut tuntutan mereka, tata kelola pemerintahan perlu dijalankan secara transparan agar kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara tetap terjaga.
TOLAK REVISI UU POLRI DAN DORONG SUPREMASI SIPIL
Dalam aspek demokrasi dan penegakan hukum, mahasiswa menyuarakan penolakan terhadap revisi Undang-Undang Kepolisian Negara Republik Indonesia (UU Polri) serta menyoroti keterlibatan aparat dalam ranah sipil yang mereka nilai berlebihan.
Mereka menegaskan pentingnya supremasi sipil, perlindungan kebebasan menyampaikan pendapat, dan penghormatan terhadap hak-hak masyarakat dalam kehidupan demokrasi.
Mahasiswa juga mendesak penyelesaian berbagai persoalan hukum serta meminta agar dugaan tindakan represif terhadap peserta aksi ditangani secara transparan dan akuntabel.
Selain itu, mereka meminta keadilan bagi rekan-rekan mahasiswa yang ditahan dalam aksi unjuk rasa sebelumnya, termasuk mendorong penerapan pendekatan restorative justice apabila memenuhi persyaratan hukum.
PERJALANAN AKSI DARI TRISAKTI MENUJU IRTI MONAS
Berdasarkan kronologi yang disampaikan, massa mulai berkumpul di kawasan Kampus Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat, sekitar pukul 10.00 WIB.
Mahasiswa kemudian bergerak secara konvoi menggunakan ratusan sepeda motor, puluhan angkutan kota (angkot), serta bus menuju pusat pemerintahan.
Dalam perjalanan, pergerakan massa sempat tertahan oleh barikade polisi di persimpangan Jalan MH Thamrin dan Kebon Sirih. Aparat kemudian mengarahkan massa melalui kawasan Tugu Tani.
Sekitar pukul 15.53 WIB, massa tiba di Jalan Medan Merdeka Selatan. Karena akses menuju Istana Negara ditutup dengan kawat berduri dan barikade besi, mahasiswa akhirnya menggelar mimbar orasi di kawasan IRTI Monas.
Di tengah berlangsungnya aksi, perwakilan staf khusus Menteri Sekretaris Negara disebut menemui para demonstran untuk mendengarkan aspirasi mereka. Perwakilan tersebut juga menjanjikan evaluasi terhadap sejumlah poin yang berkaitan dengan kinerja kementerian terkait.
Pertemuan itu menjadi salah satu ruang komunikasi antara perwakilan pemerintah dan peserta aksi di tengah penyampaian tuntutan mahasiswa.
MASSA MEMBUBARKAN DIRI PUKUL 19.15 WIB
Setelah menyampaikan seluruh tuntutan, massa mahasiswa membubarkan diri sekitar pukul 19.15 WIB. Berdasarkan kronologi yang disampaikan, aksi berakhir secara tertib dan damai.
Aksi tersebut mencerminkan beragam persoalan yang menjadi perhatian mahasiswa, mulai dari tekanan ekonomi dan kerusakan lingkungan hingga reformasi birokrasi, supremasi sipil, serta perlindungan kebebasan berpendapat.
Mahasiswa berharap tuntutan yang disampaikan tidak berhenti sebagai aspirasi di jalanan, tetapi ditindaklanjuti melalui evaluasi kebijakan, dialog terbuka, dan langkah konkret dari pihak terkait.
**

Posting Komentar