TAK MENYERAH HADAPI KARHUTLA, BNPB UJI COBA TEKNOLOGI DRY ICE DI PALEMBANG
PALEMBANG - FBINEWS
Tidak ada kata putus asa dalam penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemerintah terus mengembangkan berbagai upaya untuk mengatasi dampak kebakaran, termasuk mengurangi pekatnya asap yang mengganggu kualitas udara dan jarak pandang masyarakat.
Salah satu langkah terbaru yang tengah diuji coba adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan metode penyemaian dry ice atau es kering. Metode yang diadaptasi dari Thailand ini bertujuan membantu mengurangi konsentrasi asap dan polusi dengan memanfaatkan karbon dioksida (CO₂) dalam bentuk padat yang memiliki suhu sekitar minus 78,5 derajat Celsius.
Uji coba tersebut menjadi bagian dari upaya mencari pendekatan tambahan untuk menangani persoalan asap karhutla, terutama ketika kondisi atmosfer menyebabkan asap sulit terangkat dan menyebar.
DRY ICE DITARGETKAN ATASI ASAP YANG TERPERANGKAP
Dalam kondisi atmosfer tertentu, asap karhutla dapat terperangkap di dekat permukaan bumi akibat fenomena inversi suhu. Kondisi ini terjadi ketika suhu udara pada lapisan tertentu justru lebih tinggi dibandingkan lapisan udara di bawahnya, sehingga pergerakan vertikal udara terhambat.
Akibatnya, asap sulit naik dan terdispersi secara alami. Konsentrasi polutan pun dapat meningkat, sementara jarak pandang atau visibility mengalami penurunan.
Melalui penyemaian dry ice, pemerintah menguji kemungkinan memengaruhi kondisi atmosfer agar asap yang terperangkap dapat bergerak naik dan menyebar lebih luas. Dengan demikian, konsentrasi asap di wilayah tertentu diharapkan berkurang dan jarak pandang meningkat.
Namun, efektivitas metode tersebut masih perlu dikaji melalui pemantauan dan evaluasi lebih lanjut untuk memastikan hasilnya serta menentukan kondisi penerapan yang tepat.
JARAK PANDANG MENINGKAT DARI 650 MENJADI 2.800 METER
Hasil pemantauan awal menunjukkan adanya peningkatan jarak pandang di sekitar wilayah penyemaian pada hari pertama pelaksanaan.
Setelah dua sorti penyemaian pada Kamis, 15 Oktober 2026, data pengamatan meteorologi METAR di WIPP Palembang mencatat jarak pandang yang semula berada di kisaran 650 meter meningkat menjadi sekitar 2.800 meter.
Perubahan tersebut menjadi indikator awal yang akan dipelajari dalam evaluasi uji coba. Meski demikian, peningkatan jarak pandang tersebut belum dengan sendirinya membuktikan bahwa penyemaian dry ice merupakan satu-satunya penyebab perubahan kondisi udara, sehingga diperlukan analisis lebih lanjut terhadap faktor cuaca dan kondisi atmosfer lainnya.
UJI COBA BERLANGSUNG HINGGA 18 OKTOBER 2026
Uji coba OMC menggunakan dry ice dijadwalkan berlangsung hingga 18 Oktober 2026. Setelah rangkaian kegiatan selesai, pemerintah akan melakukan evaluasi dan berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait untuk menentukan kemungkinan pengembangan metode tersebut.
Jika hasil evaluasi menunjukkan manfaat yang dapat dipertanggungjawabkan, metode ini berpotensi dipertimbangkan untuk diterapkan di wilayah lain yang terdampak karhutla, dengan memperhatikan karakteristik cuaca dan kondisi atmosfer setempat.
Upaya tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya membutuhkan pemadaman di lokasi kebakaran, tetapi juga langkah untuk mengurangi dampak asap terhadap masyarakat.
SINERGI DAN KERJA KERAS JADI KUNCI
Penanganan karhutla membutuhkan kerja sama pemerintah, petugas lapangan, masyarakat, dan seluruh pihak terkait. Inovasi teknologi dapat menjadi salah satu instrumen pendukung, tetapi pencegahan kebakaran, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran, serta pemadaman sumber api tetap menjadi bagian penting dalam pengendalian karhutla.
Masyarakat diimbau terus mengikuti informasi resmi dari BNPB dan instansi terkait mengenai perkembangan penanganan karhutla serta kondisi kualitas udara di wilayah masing-masing.
Tidak ada kata menyerah dalam menghadapi karhutla. Setiap upaya perlu terus dikembangkan, diuji, dan dievaluasi demi melindungi masyarakat serta mewujudkan udara yang lebih bersih.
**

Posting Komentar