Tak Hanya Pulihkan Bangunan, Polri Bantu 600 Siswa dan Guru SMPN 1 Maumere Atasi Trauma
Maumere — Fbinews
Dampak gempa bumi yang melanda Kabupaten Sikka pada 15 Agustus 2026 tidak hanya terlihat dari kerusakan fisik bangunan. Rasa takut, cemas, dan trauma juga masih dirasakan sebagian guru dan siswa. Kondisi tersebut mendorong Polri untuk ikut memberikan dukungan psikologis sebagai bagian dari proses pemulihan masyarakat setelah bencana.
Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT bersama Bag SDM Polres Sikka melaksanakan kegiatan pendampingan psikologis dan trauma healing bagi guru serta sekitar 600 siswa dan siswi SMPN 1 Maumere, Kamis (3/9/2026).
Kegiatan dimulai sekitar pukul 08.30 WITA dan berlangsung di lokasi sementara SMPN 1 Maumere, Jalan Mawar, Kelurahan Madawat, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka. Untuk sementara waktu, kegiatan belajar mengajar dipindahkan dari gedung utama setelah bangunan sekolah mengalami keretakan akibat gempa dan dinilai belum layak digunakan.
Pelaksanaan kegiatan dipimpin Kasubbagsipol Biro SDM Polda NTT Kompol Prasetyo Dwi Laksono, S.Psi, bersama Tim Psikologi Biro SDM Polda NTT dan personel Bag SDM Polres Sikka.
Pendampingan psikologis diberikan dengan metode yang disesuaikan dengan kelompok peserta. Para guru mengikuti Terapi USEFT, sedangkan para siswa diajak mengikuti permainan, mengekspresikan diri, serta menikmati berbagai kegiatan hiburan.
Metode tersebut ditujukan untuk membantu peserta mengurangi rasa cemas dan ketakutan, menumbuhkan kembali rasa aman, serta membangun semangat untuk kembali menjalani aktivitas pendidikan setelah menghadapi pengalaman bencana.
Bagi para siswa, perpindahan kegiatan belajar ke lokasi sementara menjadi salah satu perubahan besar dalam rutinitas mereka setelah gempa. Situasi tersebut membuat dukungan psikologis menjadi penting agar pengalaman bencana tidak berkembang menjadi tekanan mental yang dapat mengganggu proses belajar.
Melalui kegiatan trauma healing, Polri berupaya hadir lebih dekat dengan lingkungan sekolah dan masyarakat. Pendampingan dilakukan untuk membantu guru dan siswa menghadapi dampak psikologis bencana sekaligus membangun kembali rasa percaya diri dan kenyamanan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Pelaksanaan kegiatan tersebut juga mendapat perhatian dari sejumlah media nasional yang meliput proses trauma healing, termasuk aktivitas pendampingan serta testimoni dari guru dan siswa.
Setelah berlangsung lebih dari dua jam, seluruh rangkaian kegiatan selesai sekitar pukul 10.45 WITA. Kegiatan berjalan dengan aman, tertib, dan lancar.
Pendampingan psikologis tersebut menjadi bagian dari upaya Polri dalam membantu masyarakat menghadapi dampak gempa secara menyeluruh. Pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan perbaikan sarana dan bangunan yang rusak, tetapi juga mencakup pemulihan kondisi mental, rasa aman, serta semangat generasi muda Sikka untuk kembali bangkit dan melanjutkan aktivitas pendidikan.
**

Posting Komentar