Kapten MT Honour 25 Pulang Setelah Lima Bulan Disandera Perompak Somalia, Tangis Ashari Pecah: Maaf Tak Bisa Bawa Semua Kru
Jakarta - FBINews
Tangis Kapten Ashari Samadikun (34) pecah saat akhirnya menginjakkan kaki di Tanah Air setelah lebih dari lima bulan menjadi sandera perompak di perairan Somalia. Kapten kapal tanker MT Honour 25 asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, itu tiba di Terminal VIP Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (6/10/2026), setelah berhasil dibebaskan melalui operasi aparat keamanan Puntland.
MT Honour 25 sebelumnya dibajak kelompok perompak bersenjata di perairan Hafun, Somalia, pada 21 April 2026. Kapal tersebut membawa sekitar 18.500 barel minyak dan mengangkut puluhan kru, termasuk empat warga negara Indonesia.
Selama berada dalam penyanderaan, kondisi para kru disebut sangat memprihatinkan. Komunikasi terputus setelah telepon seluler mereka disita. Persediaan logistik juga menipis hingga para sandera disebut hanya mendapatkan nasi rebus satu kali sehari dan terpaksa menggunakan air tangki yang kondisinya tidak layak untuk bertahan hidup.
Dalam situasi mencekam tersebut, Ashari juga mengaku pernah ditodong senjata di kepalanya. Ia kemudian berusaha meyakinkan para perompak bahwa dirinya seorang Muslim. Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian paling berat selama lebih dari lima bulan berada dalam penguasaan kelompok bersenjata.
Pembebasan dilakukan pada 29 September 2026 melalui operasi militer aparat keamanan Puntland. Dalam operasi tersebut, 16 orang yang diduga sebagai perompak berhasil ditangkap. Namun, pembebasan itu juga menyisakan duka setelah lima kru kapal tewas, masing-masing tiga warga Pakistan, satu warga India, dan satu warga Myanmar.
Setibanya di Indonesia, Ashari menyampaikan terima kasih kepada pemerintah, termasuk Kedutaan Besar RI di Nairobi dan Kementerian Luar Negeri, yang turut mengupayakan pembebasan dan kepulangan mereka. Namun, di tengah rasa syukur itu, ia tak kuasa menahan tangis ketika berbicara mengenai kru yang tidak berhasil pulang.
Dengan suara bergetar, Ashari menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga lima kru yang meninggal. Ia merasa bersalah karena sebelumnya memiliki harapan dapat membawa seluruh awak kapal kembali dalam keadaan selamat.
Pemerintah Indonesia selanjutnya memastikan pendampingan kesehatan fisik dan pemulihan psikologis bagi Ashari bersama tiga awak WNI lainnya, yakni Wahudinanto, Adi Faizal, dan Fiki Mutakin. Kepulangan mereka menandai berakhirnya masa penyanderaan yang panjang sekaligus menjadi babak awal pemulihan setelah melewati pengalaman traumatis di perairan Somalia.
**

Posting Komentar