Miris! Siswi MI di Sampit Berhenti Sekolah Diduga Jadi Korban Bullying karena Miskin, Bupati Turun Tangan
SAMPIT — FBINEWS
Kisah pilu seorang siswi kelas III Madrasah Ibtidaiyah (MI) berinisial S (10), di Kecamatan Baamang, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, menyita perhatian publik. Bocah tersebut dilaporkan sempat mogok hingga berhenti masuk sekolah akibat dugaan perundungan atau bullying yang berkaitan dengan kondisi ekonomi keluarganya.
Korban diduga kerap menjadi sasaran ejekan teman-teman sekelasnya sejak pindah sekolah sekitar enam bulan lalu. Ia disebut sering diejek miskin hingga dituduh sebagai maling. Perlakuan tersebut diduga membuat korban mengalami tekanan psikologis, merasa malu, sering menangis, dan kehilangan keberanian untuk kembali mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Tak hanya menerima ejekan verbal, fasilitas yang digunakan korban untuk bersekolah juga dilaporkan menjadi sasaran perusakan. Jok sepeda miliknya diduga sengaja dirobek, sehingga menambah beban psikologis yang dialaminya.
Kisah tersebut kemudian viral di media sosial dan memicu keprihatinan masyarakat. Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perundungan terhadap anak bukan persoalan sepele, terlebih jika berlangsung berulang kali dan menyangkut kondisi ekonomi keluarga.
BUPATI KOTIM TURUN LANGSUNG
Merespons kabar tersebut, Bupati Kotawaringin Timur, Halikinnor, dilaporkan mendatangi kediaman korban untuk melihat langsung kondisi anak dan keluarganya.
Pemerintah daerah berupaya memastikan korban mendapatkan perlindungan serta tetap memperoleh haknya atas pendidikan. Pendampingan diperlukan agar anak tersebut dapat kembali bersekolah tanpa dihantui rasa takut, malu, maupun tekanan dari lingkungan sekitarnya.
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) juga diminta menghadirkan tenaga psikolog untuk melakukan asesmen dan memberikan pendampingan psikologis kepada korban.
Langkah tersebut dinilai penting untuk membantu memulihkan kondisi emosional anak, membangun kembali rasa percaya diri, serta memastikan ia merasa aman ketika kembali berinteraksi dengan teman sebaya.
KEMENAG DIMINTA EVALUASI PIHAK MADRASAH
Bupati juga meminta Kementerian Agama (Kemenag) memanggil pihak kepala madrasah, guru, serta siswa yang diduga terlibat untuk mengevaluasi persoalan tersebut.
Evaluasi diharapkan dapat mengungkap bagaimana dugaan perundungan berlangsung, sejauh mana pengawasan pihak sekolah dilakukan, serta langkah apa yang harus ditempuh agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Lingkungan pendidikan semestinya menjadi tempat yang aman bagi setiap anak untuk belajar dan berkembang, bukan ruang yang membuat mereka merasa rendah diri karena keterbatasan ekonomi keluarganya.
BANTUAN EKONOMI UNTUK BANGKITKAN HARAPAN
Selain perhatian terhadap kondisi psikologis korban, dukungan juga diberikan untuk membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Berdasarkan informasi yang beredar, perwakilan pemerintah melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kalimantan Tengah menyalurkan bantuan berupa satu unit sepeda motor, perlengkapan memasak, peralatan untuk mendukung usaha ibunya, Arini, serta uang tunai sebagai modal usaha.
Bantuan tersebut diharapkan dapat membuka peluang ekonomi bagi keluarga sehingga kebutuhan sehari-hari dapat terpenuhi dengan lebih baik.
Meski demikian, bantuan materiil bukan satu-satunya jawaban. Pemulihan korban tetap membutuhkan pendampingan psikologis, dukungan keluarga, pengawasan sekolah, serta komitmen seluruh pihak untuk menghentikan segala bentuk perundungan.
JANGAN BIARKAN KEMISKINAN MENJADI ALASAN MERUNDUNG
Kasus ini menjadi tamparan bagi dunia pendidikan. Kondisi ekonomi keluarga tidak boleh dijadikan bahan ejekan, apalagi alasan untuk mempermalukan seorang anak hingga kehilangan semangat belajar.
Setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan, perlindungan, dan perlakuan yang bermartabat tanpa memandang latar belakang ekonomi orang tuanya.
Masyarakat juga diharapkan tidak menyebarkan identitas maupun informasi pribadi korban secara berlebihan demi menjaga privasi dan menghindari trauma tambahan bagi anak tersebut.
Dengan pendampingan psikososial, dukungan keluarga, serta evaluasi menyeluruh terhadap lingkungan sekolah, diharapkan korban dapat memulihkan kepercayaan dirinya dan kembali menjalani pendidikan dengan aman dan nyaman.
**

Posting Komentar